Kemendikbud Galakkan SMK Terapkan Teaching Factory, Siswa Seperti Karyawan

Lainnya

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menargetkan sampai akhir tahun 2018 ada 569 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang telah melaksanakan program Teaching Factory. Saat ini baru terdapat 114 SMK se-Indonesia yang telah menjalankan program tersebut.

Mendikbud Muhajir Effendy mengatakan, Teaching Factory merupakan program yang menjembatani antara sekolah dengan dunia industri atau usaha yang memiliki kesamaan bidang keterampilan. Sehingga program tersebut bakal mendidik siswa SMK agar mampu memproduksi barang ataupun jasa layaknya perusahaan.

“Sehingga anak atau siswa nantinya sudah seperti karyawan. Karena dia harus produksi sesuai standar,” kata Muhajir Effendy seusai membuka acara Koordinasi Bantuan Pengembangan Teaching Factory di Hotel Griptha Kudus, Kamis (28/6/2018).

Lebih lanjut Muhajir mengatakan, produk hasil dari siswa SMK yang telah menjalankan program Teaching Factory nantinya bisa dijual.

Sedangkan hasil dari penjualan bisa digunakan untuk kepentingan sekolah. Hanya saja, SMK didorong untuk segera menjadi Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD).

“Nanti kami siapkan Peraturan Menteri, selanjutnya ada peraturan di masing-masingi provinsi melalui Perturan Gubernur agar SMK bisa menjadi BLUD. Terutama SMK Negeri,” kata dia.

Dia mengatakan, status SMK Negeri sebagai BLUD nantinya bisa lebih mudah untuk mengelola uang dari hasil penjualan produk yang dihasilkan oleh siswa. Pasalnya, ketika masih belum menjadi BLUD, hasil penjualan akan masuk sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang harus disetor sebagai kas negara.

“Kalau jadi BLUD nanti penghasilan bisa dikelola oleh sekolah. Banyak SMK yang telah menjalankan Teaching Factory hanya saja tidak berani produksi, karena takutnya menyalahgunakan uang negara dari hasil produksi tersebut,” kata dia.

Sementara Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud M Bakhrun mengatakan, bantuan berupa Teaching Factory kepada SMK skitar Rp 200 juta. Bantuan tersebut diharapkan sebagai dana stimulan bagi sekolah.

“Misalnya saja SMK sudah punya laboratorium atau bengkel, tapi masih belum layak, maka agar bisa digunakan untuk memerbaiki agar sesuai standar industri,” kata M Bakhrun.

Sejauh ini, kata dia, banyak industi yang tidak keberatan diajak kerja sama dengan SMK. Karena program ini menitikberatkan kerja sama antara sekolah dengan industri.

“Sejauh ini industri welcome, terbuka,” katanya.

Sementara, lanjutnya, Teaching Factory ini dinilai bakal menjadi program yang mampu merubah sikap dan karakter siswa agar sesuai dengan karakter industri. Ke depan, industri tidak kerepotan saat membutuhkan tenaga kerja.

“Banyak industri yang hanya ingin mendapatkan tenaga kerja yang sesuai dengan keinginannya, tapi tidak mau investasi. Jadi adanya program ini bisa menjadi link and match antara sekolah dengan dunia industri,” kata dia. (*)

sumber: http://jateng.tribunnews.com/2018/06/28/kemendikbud-galakkan-smk-terapkan-teaching-factory-siswa-seperti-karyawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − 11 =